Anjala Ombong merupakan metode penangkapan ikan secara tradisional yang dilakukan secara berkelompok dengan menggunakan jaring besar (anjala) di muara sungai Pantai Sangkulu-kulu. Istilah “ombong” merujuk pada kumpulan ikan yang bergerak secara massal, sementara “anjala” adalah alat tangkap utama yang digunakan. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga sebuah praktik budaya yang mencerminkan identitas masyarakat nelayan Desa Harapan.
Anjala Ombong dilaksanakan hampir setiap tahun pada rentang bulan Juli-Agustus bertepatan dengan munculnya ikan sarden atau dalam bahasa Selayar disebut sebagai ikan (Juku’ lompa). Ikan Juku’ Lompa banyak muncul pada rentang bulan tersebut, sehingga merupakan bulan yang ideal untuk pelaksanaan Anjala Ombong.
Secara historis Anjala Ombong pertama kali dilaksanakan sekitar abad ke 18 Masehi di masa pemerintahan Opu Balla Bulo (Pemimpin atau Raja di Desa Balla Bulo yang sekarang dikenal dengan nama Desa Harapan). Anjala Ombong berkembang seiring dengan pengetahuan lokal masyarakat tentang musim, arus laut, dan perilaku ikan. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui praktik langsung dan cerita lisan para sesepuh dan pelaku budaya.
Anjala Ombong telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Dalam pelaksanaanya, Anjala Ombong memiliki tahapan-tahapan yang perlu dilakukan, antara lain;
1. Taha’ Pa’laporan mange ri Opu A’Gau ri Balla Bulo Na Parentana Opu A’ Gau
Pada tahap pertama yakni Taha’ Pa’laporan mange ri Opu A’Gau ri Balla Bulo Na Parentana Opu A’ Gau. Warga masyarakat dan pemangku adat melakukan pelaporan kepada Opu setempat mengenai situasi yang ada di muara sungai Sangkulu-kulu. Opu sebagai sosok yang memiliki otoritas tertinggi di wilayah tersebut kemudian memberikan perintah kepada warga masyarakat untuk tidak lagi melakukan aktifitas di sekitaran muarai sungai Sangkulu-kulu sampai kemudian ritual Anjala Ombong dilaksanakan.
2. Taha’ Appasadia Anjala Ombong
Pada tahap kedua yaitu Taha’ Appasadia Anjala Ombong warga masyarakat membuat jarring (Uhara) di mulut muara menggunakan daun kelapa yang menjadi penanda (Signifier) bagi warga masyarakat lainnya mengenai akan di laksanakannya ritual Anjala Ombong dalam waktu yang dekat.
3. Taha’ Ammasa
Pada tahap ketiga yaitu Taha’ Ammasa merupakan salah satu bagian dari inti ritual Anjala Ombong, yang dimana pawang Buaya di iringi oleh warga masyarakat menuju ke pinggiran sungai Sangkulu-kulu untuk memberikan sesajian kepada Buaya yang tinggal di sungai tersebut, yang diiringi oleh doa-doa keselamatan kepada Yang Maha Kuasa agar ketika prosesi Anjala Ombong berjalan lancar. Selain mengandung aspek mistik (Mystical), tahapan ini juga mengandung nilai lingkungan yang dimana Manusia membangun hubungan harmonis dengan alam (Relationship with nature).
4. Taha’ Anjala Ombong
Pada tahap Taha’ Anjala Ombong merupakan bagian inti yang paling pokok atau paling utama dari keseluruhan ritual Anjala Ombong, yang dimana warga masyarakat dituntun oleh pawang melakukan prosesi penangkapan Ikan di muara sungai Sangkulu-kulu secara bersama-sama dan beramai-ramai.
5. Taha’ Panganre – nganreang
Pada tahapan terakhir yaitu Taha’ Panganre – nganreang, warga masyarakat yang telah memperoleh hasil tangkapan Ikan di muara sungai Sangkulu-kulu kemudian melakukan proses pengolahan Ikan (Pembakaran) untuk kemudian di konsumsi secara bersama-sama baik itu dari pihak warga masyarakat, pawang maupun kalangan Opu. Tahap ini sekaligus menjadi penutup dari keseluruhan ritual Anjala Ombong yang secara tidak langsung mengandung nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyongan (Komunalistik).